Wisata Air Bendung Lepen Gajah Wong atau sering disebut Bendung Lepen Mrican oleh masyarakat sekitar ini adalah objek wisata lokal hasil sulapan masyarakat.
Terletak di Desa Mrican, Bendung Lepen dulunya adalah bendungan dan selokan yang kumuh penuh sampah. Hingga kemudian berkat kesadaran masyarakat sekitar, Bendung Lepen mulai dibersihkan dan diberdayakan sebagai objek wisata lokal.
Konsep dan tampilan dari Bendung Lepen ini cukup sederhana, yakni seperti taman-taman pada umumnya. Yang dibentuk sebagai tempat untuk bersantai lengkap dengan berbagai fasilitas seperti area duduk santai, fasilitas bermain anak, dan adanya pedagang kaki lima yang menyediakan jajanan ringan.
Yang membuat Bendung Lepen berbeda adalah “ke-alami-an” dari Bendung Lepen itu sendiri. Lahir dari kesadaran masyarakat akan lingkungan kumuh dan penuh sampah, kemudian mulai berbenah dan tercipta Bendung Lepen sebagai objek wisata lokal yang berdampingan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Lepen.
Saluran air kumuh yang kemudian diubah sebagai kolam ikan menjadi daya tarik sendiri, bak menjadi pusat perhatian tempat ini. Area wisata ini juga disempurnakan dengan blok warna-warni untuk mempercantik tampilan. Sekarang ini, Bendung Lepen pun banyak berinovasi dengan menambah layanan seperti taman baca anak.
Masih dengan wisatawan lokal, Bendung Lepen selalu ramai dengan pengunjung, loh, Travelovers. Biasanya, pengunjung ramai pada sore hari. Kebanyakan yang datang untuk bersantai dan bermain, terutama bagi orang tua yang memiliki anak.
Kesadaran akan lingkungan yang membawa berkah, Bendung Lepen juga menjadi sumber rezeki bagi masyarakat sekitar seperti ide penjualan makanan ikan, snack jajanan kaki lima, wahana perahu, dan inovasi-inovasi lain kedepannya. Dengan kerja sama yang solid antarmasyarakat, pengelolaan yang baik, serta munculnya ide inovasi lainnya, Bendung Lepen bisa terus berkembang dan memberi kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar.
Sylvanto Budi Utomo | STIP Batch 3 | Universitas Ahmad Dahlan
Tempat ini dulunya merupakan kali dan selokan yang kumuh. Namun pada 2019, pemuda setempat mulai membersihkan secara swadaya sehingga menjadi bersih dan layak untuk dinikmati. Lambat laun, dari pembersihan mulai berkembang ke pengemasan yang lebih menarik dan estetik. Dari mulanya hanya sebagai alternatif wisata untuk warga sekitar, mulai berkembang di tahun 2020 sebagai salah satu objek wisata lokal yang banyak dikunjungi wisatawan.
Dengan daya tarik pusat saluran air sepanjang jalan yang diubah sebagai kolam berisi ratusan ikan, Bendung Lepen terus berkembang dengan penyesuaian-penyesuaian untuk terus pengembangan sebagai objek wisata hingga desa wisata. Penyesuaian yang dilakukan seperti langkah pembuatan blok warna di jalan-jalan dan dinding rumah warga, penyempurnaan wahana mainan anak, dan fasilitas pendukung seperti tempat ibadah dan toilet.
Adanya Bendung Lepen ini pun turut memberdayakan masyarakat, dari mulai pengelolaan biaya retribusi hingga membuka lapangan kerja baru seiring kebutuhan yang diperlukan di area Bendung Lepen. Seperti penyediaan warung, jajanan kaki lima, bahkan rumah makan, yang tentunya dikelola oleh masyarakat sekitar.
Konsep “alami” yang mengalir dari kehidupan masyarakat menjadi ciri khas dan hal yang perlu ditonjolkan. Tanpa perlu mengikuti hal yang sedang ramai, Bendung Lepen justru bisa menciptakan konsep diri sendiri dan mempertahankannya.